suatu sudut yang didedikasikan untuk mereka kaum tak ber-label/indie yang memang mempunyai segudang talenta yang kurang terpublikasi..

 

Everybody Loves Irene

Semenjak dilepasnya single pertama dari debut “The Very First Thing You Learn About Flying is Gravity” April lalu, posisi Everybody Loves Irene sebagai pengusung genre Trip Hop dari Indonesia semakin diminati.

Selain jadwal manggung yang dipadati oleh gelaran dalam negeri, mereka juga sudah beberapa kali mendapat undangan untuk tampil di Malaysia dan Singapura.

Bahkan Agustus lalu, Everybody Loves Irene kembali lagi ke Singapura untuk menjadi duta Indonesia pada BayBeats Festival ’07 yaitu sebuah ajang Internasional di Esplanade, Singapura.

Sedikit menoleh kebelakang, first single berjudul “Memento Mori” dari debut album mereka inilah yang mewakili langkah keseriusan mereka dalam mendalami Trip Hop.

Sebuah lagu yang berkisah tentang saat-saat menjelang kematian. Lagu yang juga menjadi soundtrack serial drama TV “DTK” pernah menduduki puncak teratas tangga lagu radio di Jakarta.

Dari sini Everybody Loves Irene makin mendapat tempat tersendiri bagi sahabat-sahabatnya di dunia maya. Maka tak heran jika majalah mingguan “Hai” menobatkan Everybody Loves Irene sebagai salah satu raja dijagat jejaring sosial, MySpace.

Sejak 2004, Everybody Loves Irene sudah mengoptimalkan media internet sebagai saluran promosi dan distribusi karya-karya mereka. Kelima anak muda personilnya yaitu Aulia Naratama (synthetizer), Dimas Anindityo (bass), Mulyadi Triharsono (drum), Irene Yohana (vokal), dan Yudhi Arfani (gitar) memang sudah teradiksi internet sejak 2003.

“sharing is not stealing”, tagline yang mereka angkat untuk mempublikasikan album Everybody Loves Irene berikutnya yang bukan suatu kampanye untuk menghalalkan pembajakan.

Album pertama mereka yang berjudul “The Very First Thing You Must Learn About Flying is Gravity” (2006) didistribusikan lewat internet. Alasannya klasik, mereka tidak punya cukup dana karena sudah habis untuk produksi.

Sementara itu, acara off air untuk peluncuran album bukan perkara murah. Formula yang sama dipakai juga untuk album kedua bertajuk “On Second Thought I Might Wanna Change Some Things” (2008).

Saat dirilis pada Agustus 2008 silam, mereka mengonsep kampanye berjudul Love is sharing dengan menyebarluaskan single pertama dari album keduanya yang bertajuk “Rindu”. Fans mereka bisa langsung streaming dan mengunduh lagu itu secara gratis.

Lagu yang mereka share pun lagu mereka sendiri, bukan lagu orang lain. Nomor hits klasik seperti “rindu” milik Planet Bumi mereka bawakan dengan versi mereka sendiri.

download here!!!

 

Goodnight Electric

Goodnight Electric dibentuk oleh Henry Foundation pada akhir tahun 2003 di Jakarta. Sebuah konsep musik studio yang berkonsentrasi pada genreSynthpop.

Terinspirasi dari musisi di era awal 80’an dan 90’an seperti Depeche Mode, The Cure, Kraftwerk, Yazoo, Belle and Sebastian dan The Lighting Seeds, Goodnight Electric mencoba mengkombinasikan musik electro, pop dan new wave dengan menggunakan synthesizer dan komputer sebagai media utamanya.

Dibantu dengan Bondi Goodboy dan oomleo untuk kebutuhan Live performace, Goodnight Electric berkembang menjadi sebuah trio dance group dengan formasi yang lebih solid.

Goodnight Electric berhasil merilis sebuah debut album “Love and Turbo Action” pada akhir tahun 2004 di bawah naungan label indie H.F.M.F Recordsdengan beberapa single seperti ‘Am I Robot?’ dan ‘Rocket Ship Goes By’ yang berhasil mendapatkan apresiasi serta perhatian yang cukup baik di masyarakat pencinta musik di Indonesia, khususnya di kalangan remaja ibukota.

Langkah awal yang cukup baik ini turut dibantu oleh rekan-rekan media dan juga support dari berbagai macam kalangan sehingga Goodnight Electric berhasil mendapatkan nominasi Best New Artist di MTV Indonesia Music Award 2005, Best Live PA di Paranoia Award Hard Rock FM Jakarta 2005 dan berpartisipasi dalam berbagai ragam event musik dari dance music festival, pentas seni hingga charity event.

H.F.M.F Records kembali merilis ulang (repackage) album “Love and Turbo Action” (Silver Album) pada tahun 2005 dengan 3 tambahan materi Remix dariDJ. OreoApe On The Roof, dan The Adams.

Pada akhir tahum 2005 Goodnight Electric menandatangani kontrak denganJTB Records, sebuah perusahaan rekaman dari Jepang untuk merilis “Love and Turbo Action” (Green Album) yang akan dirilis dan didistribusikan di Jepang pada awal tahun 2006.

download here!!!

 

Mocca

Mocca adalah kelompok musik indie pop asal Bandung. Grup ini beranggotakan Riko Prayitno (gitar), Arina Ephipania (vokal dan flute),Achmad Pratama (bass), dan Indra Massad (drum).

Pada mulanya Arina dan Riko merupakan teman satu kampus di Institut Pertanian Bogor. Mereka tergabung dalam sebuah band kampus tahun 1997-an. Karena tidak cocok dengan anggota yang lain, Arina dan Riko pun sepakat mendirikan “Mocca”.

Dua tahun kemudian mereka bertemu dengan Indra dan Toma. Indra dan Toma merupakan teman satu kampus, mereka belajar desain produk di Institut Teknologi Nasional, Bandung dan masuk ke Mocca pada waktu yang sama.

Mocca pertama kali mucul dalam kompilasi Delicatessen (2002), dan langsung merebut hati penggemar. Satu tahun kemudian mereka mengeluarkan debut album mereka “My Diary” (2003) dengan label indie “FFWD”.

Album ini meledak di pasaran. Lagu-lagu seperti “Secret Admirer” dan “Me and My Boyfriend” menjadi hits di mana-mana. Video klip “Me and My Boyfriend” mendapat penghargaan sebagai “best video of the year” versi MTV Penghargan Musik Indonesia 2003.

Bahkan mereka menandatangani kontrak dengan salah satu indie records di Jepang, Excellent Records, untuk mengisi satu lagu dalam album yang format rilisannya adalah kompilasi book set (3 Set) yang berjudul “Pop Renaisance”.

Ada 3 disc yang diedarkan di Jepang dan Mocca berada di disc no. 2 dengan lagu “Twist Me Arround”. Lagu-lagu Mocca sendiri menggunakan bahasa Inggris dengan alasan memudahkan penulisan syair serta kesesuaian dengan warna lagu pop dengan sentuhan swing jazz, twee pop, dan suasana ala 60-an.

Mocca kembali merilis album kedua mereka tahun 2005 bertajuk “Friends” masih dibawah label indie, Fast Forward Record. Dalam album ini Mocca tidak tampil sendirian. Mereka menggaet dua musisi andal untuk memperkaya musik mereka.

Dari dalam negeri, mereka menghadirkan Bob Tutupoli untuk mengisi suara dalam lagu “This Conversation” dan lagu yang khusus dibuat untuknya, “Swing It Bob”. Mereka juga berduet dengan musisi asal Swedia, Club 8. Bersama duo asal Swedia ini, Johan dan Karolina Komstedt, Mocca membawakan lagu “I Would Never”.

Karier Mocca semakin menanjak. Tak hanya di dalam negeri, mereka mengembangkan sayap ke Asia. Singapura, Malaysia, Thailand, dan Jepang telah menikmati album mereka. Pada tahu 2005, Mocca menggelar konser di Singapura dan menampilkan The Rock Angels Band.

Mocca juga terlibat dalam pembuatan lagu soundtrack. Kuartet ini pernah mengerjakan soundtrack film “Catatan Akhir Sekolah” karya Hanung Bramantyo dan soundtrack sinetron TV “Fairish the Series”. Mocca juga membuat sebuah mini album berisi 6 lagu, 2 di antaranya berbahasa Indonesia. Mini album ini sebelumnya berjudul “Sunday Afternoon”, tapi dirilis dengan judul “Untuk Rena”. Mocca terinspirasi naskah cerita film anak-anak berjudul “Untuk Rena”.

Mocca tak hanya mendapat inspirasi. Mereka juga mendapat kesempatan untuk memasukkan “Happy!” dan “Sebelum Kau Tidur” sebagai soundtrack film garapan Riri Riza itu.

Tahun 2007, Mocca mengeluarkan album ketiga mereka, “Colours”. Album ini memuat materi baru, termasuk 2 cover song yaitu ‘Hyperballad’ (Bjork) dan ‘Sing’ (The Carpenters) serta sebuah kolaborasi dengan Pelle Carlberg (Edson) yang kemarin sempat menjadi tamu di LA Light IndieFest, dalam lagu ‘Let Me Go’.

download here!!!

 

Pure Saturday

Pure Saturday dibentuk olehMuhammad Suar Nasution (vokal, gitar), Ade Purnama (bass), Aditya “Adhi” Ardinugraha (gitar), Yudistira “Udhi” Ardinugraha (drum) dan Arief Hamdani (gitar) pada tahun 1994.

Pure Saturday adalah perintis band indie dari Bandung. Mereka merilis debut album mereka yaitu “Pure Saturday”pada tahun 1996, sebanyak 5.000 kopi dan dijual dengan sistem mail-order melalui sebuah majalah remaja.

Album ini kemudian di distribusikan secara luas setelah band ini menandatangani kontrak dengan label Ceepee Records. Single “Kosong” membuat nama Pure saturday makin melambung, disertai dengan konsep video klip yang artistik dan ternyata mendapat respon positif dari publik.

Album kedua Mereka yang bernama Utopia, dirilis pada tahun 1999 melalui Aquarius Musikindo. Karena faktor keluarga dan alasan bisnis, Pure Saturday akhirnya vakum untuk beberapa tahun dan mencapai puncaknya ketika Suar keluar dari band pada tahun 2004.

Setelah gagal menggelar audisi untuk mencari vokalis pengganti yang cocok, akhirnya mereka menemukan Satria “Iyo” NB, yang sebelumnya adalah manajer band Pure saturday. Akhirnya Iyo mengisi kekosongan posisi vokal. Dengan berbekal seorang vokalis baru, Pure Saturday merilis album ketiga yang telah lama ditunggu-tunggu, “Elora” pada Maret 2005 melalui label indie FastForward Records.

download here!!!

 

Stereomantic

Stereomantic adalah band elektro popyang berasal dari Jakarta. Asal kata Stereomantic dari kata ‘stereo & romantic’ yang berarti musik stereo yang mengiringi lagu-lagu romantic.

Dua orang yang membidani lahirnya duo ini adalah Aroel (mantan gitaris Planetbumi) yang juga seorang jingle maker & Maria (mantan vokalis Klarinet).

Stereomantic terbentuk pada tanggal 15 April 2006 bertepatan dengan hari pernikahan seorang teman. Perjalanan duo ini ke dunia musik terbilang cukup cepat. Saat ini mereka sedang mempersiapkan materi untuk album perdananya yang didukung penuh olehAksara Records.

Warna musik yang ingin ditampilkan sederhana yaitu POP, tapi dikemas secara elektronik. Beberapa orang mengkategorikan musik stereomantic sebagai “indie pop electronic”, ada juga “electro pop”, ada lagi “disco pop” akan tetapi benang merahnya tetap satu yaitu POP.

Berharap bahwa warna musik ini akan menjadi sesuatu yang idealis tapi masih komersil. Dua isi kepala dijadikan satu tentu tidak mudah, karena yang satu ingin idealis dan yang lainnya ingin komersil, akhirnya satu hal yang bisa mempersatukan keduanya yaitu “main musik ‘musti’ jujur & ‘harus’ memakai hati”

Beberapa musisi yang telah menginfluence band ini diantaranya The Smith, Morrissey, St. Ettienne, The Cardigans, Carpenters, Pet Shop Boys, The Beatles dan lain-lain.

download here!!!

 

Zeke and The Popo

Zeke & the popo, awalnya adalah sebuah band proyek sampingan dariZeke (vokal, piano & gitar dari bandLAIN) pada 2003. Zeke lalu mengajakLeonardo Ringo (aka Mugeni).

Keduanya merasa ada chemistry di antara mereka lalu mereka menciptakan lagu bersama. Tidak lama setelah itu, mereka mengajak Iman Fattah (alias Babyfaced) juga dari band LAIN untuk bergabung bersama mengisi posisi synthesizer.

Sebagai band yang sering tampil, akhirnya mereka ikut dalam sebuah kompilasi yang bernama JKT:SKRG yang dirilis oleh Aksara Records, lalu mereka mencari seorang drummer & pemain bass karena mereka merasa bahwa musik mereka harus berkembang dan explore. Akhirnya mereka mengajak Amir (alias Kuro) untuk bermain drum & Yudi (alias cambang) untuk bermain bass. Pada bulan November 2003, mereka tampil bersama untuk pertama kalinya pada sebuah acara di Aksara Bookstore Kemang.

Pada tahun 2005, ZATPP (nama beken mereka) sekali lagi mengisi sebuah soundtrack untuk sebuah film yang bernama “Janji Joni” (termasuk sebuah lagu yang berjudul “Mighty Love” yang ditujukan kepada alter-ego band mereka yaitu Salvatore Mamadou) film tersebut ternyata sukses dan membawa nama ZATPP menjadi terkenal pada tahun itu.

Pada bulan Maret 2005, ZATPP merilis EP pertama mereka, “Unrescued World” yang berisi empat lagu. Tidak butuh waktu terlalu lama untuk merilis mini album dalam bentuk sebuah CD. Efek dari penjualan mini album ZATPP yaitu berhasil mencuri hati dan perhatian sejumlah pengikutnya di Bandung (dalam sebuah acara bulanan bernama “Les Voila 2005”, yang juga menampilkan beberapa band lokal ternama seperti Mocca dan THE SIGIT, ZATPP termasuk band yang ditunggu-tunggu waktu itu.

Pada November 2006 ZATPP sekali lagi menyumbangkan lagunya untuk sebuah soundtrack film yang berjudul “6:30”. Dalam peluncuran film tersebut, ZATPP tampil bersama NAIF dan Pure Saturday.

Selain mengerjakan proyek musik, Zeke juga bekerja sebagai komposer untuk film score dan music director untuk film yang berjudul “KALA” yang disutradarai oleh Joko Anwar (“Janji Joni”).

Zeke juga menyutradarai sebuah video klip yang berjudul “Space in the Headlines”, yang berhasil meraih penghargaan terbaik dari film edutation di London. Pada tahun 2007, Zeke merilis Soundtrack film “KALA” bersamaan dengan debut album “Space in the Headlines” di bawah naungan Black Morse Records.

Single pertama yang dirilis dari film “KALA” adalah “Hope Killer” yang juga diakui sebagai pelengkap dalam album “Space in the Headlines”. Zeke & the popo dikenal oleh scene musik independen lokal karena mereka memiliki sound yang unik, aransemen lagu yang tak lazim & aksi panggung yang berbeda.

Mereka selalu membawa alat visual mereka sendiri setiap tampil dimanapun berada dan hal itu adalah salah satu hal yang membuat mereka dikenang sebagai one-of-a-kind band dengan penampilan visual.

download here!!!

Sore

Awalnya SORE dibentuk oleh tiga orang teman dari masa kecil mereka di Jakarta. Mereka adalah Ade Paloh, Mondo Gascaro dan Awan Garnida.

Pada akhir 2001, Awan Garnida membawa dua teman lainnya yaitu Bembi Gusti dan Reza Dwiputranto dan kemudian mereka membentuk sebuah band yang bernama SORE. Pada tahun 2004 dan awal 2005 mereka menyumbang dua lagu dalam dua album kompilasi, yang pertama adalah kompilasi musik dari scene indie Jakarta yang disebut “JKRT: SKRG” yang dirilis oleh Aksara Records, sedangkan yang lainnya adalah soundtrack film “Janji Joni,” yang juga dirilis oleh Aksara Records.

Mereka merilis debut album Centralismo (Aksara Records) pada tahun 2005. Musik SORE sangat bervariasi dari lagu ke lagu dalam album ini. Mereka memilih jalur vintage dalam hal instrumentasinya, seperti penggunaan vibraphones, mellotron, dan horn yang menciptakan kenangan dari masa keemasan musik di era 50-an, 60-an dan 70-an.

Album ini menerima pujian dari semua pihak. Majalah Time Asia yang menetapkan album “CENTRALISMO” sebagai Satu dari lima “Asian Album Worth Buying”, dan majalah Rolling Stone Indonesia memasukan album “CENTRALISMO” ke dalam ke urutan 40 besar pada “150 Greatest Album Indonesia of All Time”. Akhirnya, setelah setahun mereka menulis materi, mereka kembali lagi dengan album kedua mereka yang berjudul “Ports of Lima” (Aksara Records – 2008).

Album “Ports of Lima” menjadi album yang banyak di puji para kritikus musik. Baru-baru ini majalah Rolling Stone Indonesia memilih album “Ports of Lima” sebagai Best Album of 2008 versi Rolling Stone.

download here!!!

The Adams

The Adams berdiri di Jakarta, bermula dari sebuah hubungan pertemanan disebuah kampus seni bernama Institut Kesenian Jakarta.

Di tahun 2002, Ario Hendarwan (vokal/gitar), Bawono “Beni” Adhiantoro(drum), Martino “Tino” Runtuhaku (gitar) dan Setyo Dwiharso (bass) – semuanya mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta – mulai berjam session bersama dan menciptakan lagu-lagu orisinil yang menggabungkan distorsi cadas garage rock dengan harmoni vokal yang memukau.

Setelah sempat dikenal sebagai Lonely Band, Tyo mengusulkan nama The Adams yang diambil dari “Adam dan Hawa”, karena seluruh personel band berjenis kelamin pria. Akhirnya Tino dan Tyo meninggalkan The Adams, Beni beralih ke bas, sementara Saleh Husein “Ale” Mahfud (juga anggota White Shoes & the Couples Company) dan Bimo Dwipoalam bergabung, masing-masing pada gitar dan drum.

Di tahun 2005, The Adams melepas album pertama yang self-titled dan menelurkan single “Konservatif” serta “Waiting”, dua lagu yang juga ditampilkan dalam film sukses Janji Joni.

Di akhir tahun itu, Beni meninggalkan band agar bisa lebih fokus dalam posisinya sebagai drummer The Upstairs, sementara Bimo pindah ke Bali untuk melanjutkan studi, Arfan (alias Apoy), gitaris Karon ‘N Roll, direkrut sebagai bassis, Gigih Suryoprayogo Setiadi (alias Kiting) dari It’s Different Class mengambil alih posisi Bimo di balik drum, dan Retiara Haswidya Nasution (alias Kaka), yang sebelumnya menjadi kibordis untuk keperluan panggung The Adams, diangkat menjadi anggota tetap.

Di tahun 2006, formasi baru The Adams melepas album “v2.05”, di mana mereka mengembangkan sound yang lama dengan struktur lagu yang lebih rumit dan harmonisasi lima vokal yang membius. Lewat lagu-lagu hit “Halo Beni”, “Hanya Kau” dan “Selamat Pagi Juwita” dan aksi panggung yang seru, The Adams telah menjadi salah satu band yang patut diperhitungkan di Indonesia.

download here!!!

White Shoes & The Couples Company

Pada bulan Agustus 2002, di sebuah kampus bernama IKJ, Cikini, Jakarta Pusat, dua kekasih dari fakultas seni, Rio dan Sari memutuskan untuk membentuk sebuah band bersama-sama dengan teman mereka di kampus yang bernama Saleh.

Ini adalah formasi pertama White Shoes & The Couples Company, yang menampilkan Sari dalam vokal & violin, Rio pada gitar dan Saleh pada gitar melodi. Mereka bertiga melakukan debut pertama mereka dalam formasi ini di sebuah acara kampus.

Namun, formasi trio menyimpang dari rencana awal dimana mereka benar-benar Sari dan Rio karena sepasang suami istri dari fakultas musik IKJ meminta untuk bergabung yang tak lain adalah pasangan adalah Ricky Surya Virgana & Mela Virgana.

Namun waktu menjadi kendala untuk bertemu karena mereka terlalu sibuk kuliah dan berlatih untuk orkestra. Beberapa bulan kemudian, Ricky dan Mela bergabung dengan White Shoes & The Couples Company dan Ricky menempati posisi Bass dan cello sedangkan Mela pada biola, keyboard dan piano. Lagu pertama White Shoes & The Couples Company adalah “Runaway Song” yang ditulis oleh Sari & Rio. Yang berikutnya adalah “Windu & Defrina”, diikuti “Sunday Memory Lane” dan “Nothing To Fear”.

Pada awalnya, White Shoes & The Couples Company tidak memiliki drummer. Dengan demikian, Ricky memulai mencari seorang teman di fakultas yaituJohn Navid aka Lau Kun Sin untuk posisi drummer tambahan untuk bermain di salah satu acara di BB’s Bar Menteng. karena sesuai dengan kebutuhan, John akhirnya menjadi drumer tetap pada tahun 2004. Dengan demikian, ini adalah formasi “White Shoes & The Couples Company” yang paling solid.

White Shoes & The Couples Company merekam album debut mereka yang terdiri dari 11 lagu di bawah Aksara Records, indie label rekaman yang berbasis di Jakarta. Pada Agustus 2005, album ini dirilis oleh Aksara Records dan didistribusikan oleh Universal Music Indonesia di Indonesia. Album ini telah terjual lebih dari 15.000 kopi, dan hal itu merupakan langkah besar untuk sebuah band indie.

Pada tahun yang sama, White Shoes & The Couples Company telah menyumbang satu lagu dalam pembuatan Soundtrack sebuah film layar lebar berjudul “Janji Joni” yang diproduksi oleh Kalyana Shira Films.

download here!!!

Efek Rumah Kaca

Efek Rumah Kaca adalah grup musik indie yang berasal dari Jakarta. Terdiri dari Cholil Mahmud (vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (vokal latar, bass), Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar).

Grup musik ini dibentuk pada tahun 2001. Setelah mengalami beberapa kali perubahan personil, akhirnya mereka memantapkan diri mereka dengan formasi band tiga orang. Sebelumnya, band ini bernama Hush. Nama ini kemudian diganti menjadi Superego, lalu berubah lagi pada tahun 2005 menjadi Efek Rumah Kaca (diambil dari salah satu judul lagu mereka).

Banyak yang menyebutkan bahwa warna musik Efek Rumah Kaca tergolong dalam post-rock, bahkan adapula yang menyebutkan shoegaze sebagai warna musik mereka.

Tetapi, Efek Rumah Kaca dengan mantap menyebutkan bahwa warna musik mereka adalah pop, karena mereka merasa tidak menggunakan banyak distorsi dalam lagu-lagu mereka seperti selayaknya musik rock. Mulai Januari 2009, mereka dipercaya untuk mengisi rubrik khusus seputar pemilu di surat kabar Kompas setiap hari Sabtu.

Banyak ulasan yang mengatakan bahwa Efek Rumah Kaca sangat sensasional. Karya mereka dipercaya sangat laris manis dan jadwal pentas pun semakin padat.Ini karena Efek Rumah Kaca menawarkan sesuatu yang sangat berbeda.

Lirik mereka mulai dari masalah gay, polusi, pemanasan global, perjuangan aktivis Munir hingga larisnya lagu pop melayu di Indonesia jadi perhatian mereka. Dengar saja lagu ‘Cinta Melulu’ yang dibalut nada ceria dengan tempo yang sangat pas.

Lagu ini merajalela di banyak radio sejak beberapa bulan lalu. Lagu ‘Jatuh Cinta itu Biasa Saja’ sangat membuat penasaran. Syair yang sangat sastra dengan musik mellow terdengar cocok memanjakan telinga. Nuansa indie yang kental terdapat di semua lagu-lagu mereka.

download here!!!

The Sigit

Pada tahun 1994 hingga 2002 adalah masa pembentukan band The S.I.G.I.T, dimana para personelnya saling bertemu satu sama lainnya lalu mereka mulai bermain dan berlatih bersama serta menulis materi lagu mereka sendiri.

The S.I.G.I.T digawangi oleh Rektivianto Yoewono (Vocal, guitar), Farri Icksan Wibisana(Guitar), Aditya Bagja Mulyana(Bass, backing vocal)dan Donar Armando Ekana / Acil (Drums).

Pada tahun 2004, The S.I.G.I.T menandatangani kontrak dengan Spills Records dan merilis debut mini albumnya yang berjudul “The Sigit”.

Single pertama mereka, Soul Sister menjadi hits di setiap radio lokal di kota Bandung dan Jakarta. Tak lama berselang,MTV Trax Magazinemenganugerahkan mereka sebagai “The Hottest Rock N Roll Band”.

The S.I.G.I.T mengisi soundtrack film Catatan Akhir Sekolah (CAS), dengan nomor hitsnya “Did i ask Your Opinion”, yang akhirnya lagu tersebut menjadi single pertama mereka yang disiarkan oleh MTV-I. Setelah meninggalkan Spills Records, mereka semakin dikenal oleh publik.

Pada tahun 2005 nama mereka muncul di NME’s stereo edisi 30 Juli. Pada tahun 2006 The S.I.G.I.T dikontrak oleh sebuah label indie asal kota Bandung yang bernama Fastforward records dan merilis album “Visible Idea of Perfection” pada bulan Desember.

Pada tahun 2007 mereka menandatangani kontrak dengan sebuah indie label dari Australia bernama Caveman! dan merilis ulang album “Visible Idea of Perfection” yang didistribusikan oleh Reverbnation. Mereka melakukan tur ke Australia pada bulan Juni bertepatan dengan tanggal rilis. Pada tahun 2009 mereka tampil di SXSW 2009 di Austin, Texas, California dan Hongkong. Album “Disleksia Hertz” dirilis pada bulan Juni silam.

download here!!!

The Milo

The Milo dibentuk tahun 1996 awalnya sebagai sebuah band proyek Aji Gergaji yang tak lain adalah seorang gitaris band Cherry bombshellbersama dengan Coro (ex-anggota Cherry bomshell), Upik dan Uti (gitaris Laluna).

Nama the milo berasal dari nama anjing peliharaan Mickey Mouse yang bernama “milo”. Ajie (vokalis & gitaris sekaligus pemimpin the milo) senang sekali menonton film kartun, dan pada suatu saat ia menonton film kartun di mana ada anjing bernama “milo”. Ia berpikir bahwa nama “milo” sangat bagus untuk dijadikan nama band, sekaligus mudah diingat.

Jadi, the milo itu tidak ada sangkut-pautnya dengan salah satu merek susu, walaupun banyak orang yang beranggapan begitu. The milo terbentuk sekitar tahun 1996. The milo pada awalnya merupakan side project, di mana para personil the milo masing-masing sudah memiliki band sendiri. Kemudian, side project ini malah menjadi sesuatu yang serius bagi personel the milo.

Aji memutuskan untuk keluar dari Cherry bombshell dan fokus pada The Milo sebagai proyek utama. Kemudian The Milo membuat beberapa perubahan lineup yaitu Coro dan Uti digantikan oleh personel baru, The Milo sekarang terdiri dari Aji, Upik, Suki (mantan anggota band Dua Sejoli), Krucil (mantan anggota band Frozen Head), dan Hendi Unyil (mantan anggota band New Market).

Sebagai salah satu dari banyak band indie yang ada di Indonesia, The Milo mencoba untuk membangun kreativitas musik dan menghilangkan batasan-batasan dalam dunia musik. Hal-hal tersebut tidak menghentikan mereka untuk menyampaikan ide-ide baru dalam membawa musik mereka.

Kepuasan adalah hal terakhir yang ingin mereka capai karena tak satupun dapat membatasi kreativitas mereka. The Milo akan selamanya bebas, tak terbendung kontemplasi, dan dialektika tanpa akhir. Last but not least, The Milo akan tetap hadir hingga kapanpun.

download here!!!

 

The Brandals

Band Rock n’ roll fenomenal asal Jakarta, The Brandals dibentuk pada akhir 2001 dan awalnya mereka bernama ‘The Motives.’ The Brandals lahir dikawasan ibukota yang tercemar oleh polusi dan degradasi moral.

Formasi awalnya yaitu Edo Wallad pada vokal, Bayu pada Lead gitar, Tonnypada Rhythm gitar, Doddy pada bass dan Rully Annash pada Drum. Mereka menghabiskan sepanjang tahun 2002 untuk mengerjakan dan menulis materi lagu mereka sendiri.

Referensi musik The Brandals diantaranya The Who, The Rolling Stones, Jimi Hendrix, The Kinks, Sex Pistols dan The Clash. Pada awal tahun 2003, Edo Wallad meninggalkan The Brandals karena bekerja sebagai editor disebuah majalah ibukota. Kemudian masuklah Eka Annash (kakak dari Rully), yang menulis lagu dan melakukan aksi-aksi fenomenal serta mengubah nama band dari The Motives menjadi The Brandals.

Sepanjang tahun 2003 The Brandals telah melalui berbagai rintangan yang tinggi, mereka melakukan serangkaian pertunjukan dengan membawakan nomor-nomor hits mereka sendiri seperti 100 km / jam, Lingkar Labirin, Marching Menuju Maut, Moonlight Chid, dll. Proses Pengerjaan album pertama dimulai pada Maret hingga Oktober 2003 di sebuah studio rekaman yang bernama The Doors (dikawasan Jakarta timur).

Mereka merilis debut album mereka yang bernama ‘The Brandals’ yang didistribusikan oleh sebuah label indie kecil bernama Sirkus Records dan terjual sebanyak 7.500 kopi. Hal Ini adalah hal yang mengesankan dalam dunia indie. Kemudian The Brandals melakukan tur panjang disepanjang Jawa, Bali dan Sumatera pada tahun 2004.

Proses pengerjaan untuk album kedua dimulai pada November 2004 di sebuah studio bernama Studio 18, Jakarta. Album yang bernama “Audio Imperialis” ini dirilis pada 17 Agustus 2005 dan menggunakan sistem titip edar distribusi oleh sebuah major label bernama Warner Music.

The Brandals akhirnya mendapat kesempatan tampil di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia pada awal tahun 2007. Album penjualan mereka naik drastis sebanyak 35,000 kopi. Pada tahun 2007 The Brandals kembali merekam album ke tiga yang berjudul ‘Brandalisme’. Album ‘Brandalisme’berhasil memberikan pencerahan tanpa meninggalkan warna aslinya, Rock n’roll dan blues. Semangat DIY tetap mempengaruhi album ‘Brandalisme’ yang kemudian dirilis oleh sebuah label indie terkemuka Jakarta, Aksara Records.

Film Marching Menuju Maut (Inside The Brandals Garage) adalah film dokumenter yang mendokumentasikan periode awal terbentuknya The Brandals hingga dirilisnya album debut historikal ‘The Brandals’ tahun 2003. Lewat gerilya dari panggung ke panggung dan serangkaian tur keliling penjuru Indonesia, The Brandals berhasil meraih perhatian media dan para “Brigadir Rock n’ Roll” sebagai salah satu band yang kembali menancapkan dan mengkukuhkan posisi musik rock di kancah musik Indonesia. Film ‘Marching Menuju Maut’ mempresentasikan perjalanan dan perjuangan The Brandals dari mata para personil, teman-teman, penggemar dan orang-orang yang terkait di belakang band tersebut.

Sutradara Faesal Rizal yang menjabat sebagai posisi dokumenter di setiap penampilan dan tur The Brandals sejak awal, berhasil menangkap, merangkum dan meng-edit momen-momen penting krusial dari puluhan kaset digicam dan ratusan jam footage menjadi sebuah fitur dokumentasi musik yang penuh dengan keringat, testosteron, adrenalin, darah dan substansi ilegal. Film fitur dengan durasi +/- 75 menit rencananya akan dirilis dalam bentuk DVD pada akhir tahun 2009.

Band Rock n’ roll fenomenal asal Jakarta, The Brandals dibentuk pada akhir 2001 dan awalnya mereka bernama ‘The Motives.’ The Brandals lahir dikawasan ibukota yang tercemar oleh polusi dan degradasi moral.

Formasi awalnya yaitu Edo Wallad pada vokal, Bayu pada Lead gitar, Tonnypada Rhythm gitar, Doddy pada bass dan Rully Annash pada Drum. Mereka menghabiskan sepanjang tahun 2002 untuk mengerjakan dan menulis materi lagu mereka sendiri.

Referensi musik The Brandals diantaranya The Who, The Rolling Stones, Jimi Hendrix, The Kinks, Sex Pistols dan The Clash. Pada awal tahun 2003, Edo Wallad meninggalkan The Brandals karena bekerja sebagai editor disebuah majalah ibukota. Kemudian masuklah Eka Annash (kakak dari Rully), yang menulis lagu dan melakukan aksi-aksi fenomenal serta mengubah nama band dari The Motives menjadi The Brandals.

Sepanjang tahun 2003 The Brandals telah melalui berbagai rintangan yang tinggi, mereka melakukan serangkaian pertunjukan dengan membawakan nomor-nomor hits mereka sendiri seperti 100 km / jam, Lingkar Labirin, Marching Menuju Maut, Moonlight Chid, dll. Proses Pengerjaan album pertama dimulai pada Maret hingga Oktober 2003 di sebuah studio rekaman yang bernama The Doors (dikawasan Jakarta timur).

Mereka merilis debut album mereka yang bernama ‘The Brandals’ yang didistribusikan oleh sebuah label indie kecil bernama Sirkus Records dan terjual sebanyak 7.500 kopi. Hal Ini adalah hal yang mengesankan dalam dunia indie. Kemudian The Brandals melakukan tur panjang disepanjang Jawa, Bali dan Sumatera pada tahun 2004.

Proses pengerjaan untuk album kedua dimulai pada November 2004 di sebuah studio bernama Studio 18, Jakarta. Album yang bernama “Audio Imperialis” ini dirilis pada 17 Agustus 2005 dan menggunakan sistem titip edar distribusi oleh sebuah major label bernama Warner Music.

The Brandals akhirnya mendapat kesempatan tampil di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia pada awal tahun 2007. Album penjualan mereka naik drastis sebanyak 35,000 kopi. Pada tahun 2007 The Brandals kembali merekam album ke tiga yang berjudul ‘Brandalisme’. Album ‘Brandalisme’berhasil memberikan pencerahan tanpa meninggalkan warna aslinya, Rock n’roll dan blues. Semangat DIY tetap mempengaruhi album ‘Brandalisme’ yang kemudian dirilis oleh sebuah label indie terkemuka Jakarta, Aksara Records.

Film Marching Menuju Maut (Inside The Brandals Garage) adalah film dokumenter yang mendokumentasikan periode awal terbentuknya The Brandals hingga dirilisnya album debut historikal ‘The Brandals’ tahun 2003. Lewat gerilya dari panggung ke panggung dan serangkaian tur keliling penjuru Indonesia, The Brandals berhasil meraih perhatian media dan para “Brigadir Rock n’ Roll” sebagai salah satu band yang kembali menancapkan dan mengkukuhkan posisi musik rock di kancah musik Indonesia. Film ‘Marching Menuju Maut’ mempresentasikan perjalanan dan perjuangan The Brandals dari mata para personil, teman-teman, penggemar dan orang-orang yang terkait di belakang band tersebut.

Sutradara Faesal Rizal yang menjabat sebagai posisi dokumenter di setiap penampilan dan tur The Brandals sejak awal, berhasil menangkap, merangkum dan meng-edit momen-momen penting krusial dari puluhan kaset digicam dan ratusan jam footage menjadi sebuah fitur dokumentasi musik yang penuh dengan keringat, testosteron, adrenalin, darah dan substansi ilegal. Film fitur dengan durasi +/- 75 menit rencananya akan dirilis dalam bentuk DVD pada akhir tahun 2009.


download here!!!

cya,,


0 Responses to “indie corner???”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




blog-indonesia.com

Kalender :

Desember 2016
S S R K J S M
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 7 pengikut lainnya

free counters

Teman yang Mampir :

  • 163,557 teman

translate this blog :

english version :

Jangan Asal Copy Paste ?!

JANGAN ASAL COPY-PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, ok? :)

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

%d blogger menyukai ini: